Korupsi
bukan wujud manusia ataupun benda. Korupsi bagaikan magnet yang memiliki daya tarik
persuasif setiap manuisa. Manusia yang melakukan korupsi disebut koruptor.
Kelakuannya cocok diberi gelar “tikus got” yang wujudnya hitam dan menjijikkan.
Korupsi bisa menutup mata setiap manusia yang melihat sekaligus merasakannya.
Korupsi bisa membalikkan mata manusia sehingga iman yang dimiliki bisa lenyap
dalam seketika. Begitu hebatnya korupsi sampai manusia lupa akan dirinya. Di
Indonesia ada pihak yang diuntungkan dan dirugikan dalam kasus korupsi.
Pertama, pihak yang melakukan korupsi merasakan keuntungan yang luar biasa karena
kehadiran korupsi bisa melipatgandakan uang dalam sekejap untuk kita miliki padahal
uang itu bukan milik kita. Kedua, dengan kehadiran korupsi hutang Negara
khususnya di Indonesia semakin menggunung. Saya tidak setuju dengan kehadiran
korupsi. Bagi yang melakukan korupsi rumah mewah di mana-mana, mobil keluaran
terbaru selalu ada, bagi kaum laki-laki bisa mengoleksi cewek artis semaunya, dan
tabungan selalu bertambah setiap harinya. Itu salah satu ciri yang dimiliki
atau dilakukan oleh orang yang melakukan korupsi. Tikus got yang hitam dan menjijikkan
apakah dibiarkan hidup berkeliaran di Indonesia selama bertahun-tahun? Tentu
tidak. Satu-satunya cara adalah membasmi korupsi demi Ibu pertiwi.
Siapa
yang bisa membasmi korupsi? Sudah pasti jalan satu-satunya yang bisa melawan
korupsi adalah kesadaran diri kita sendiri. Korupsi seperti artis saja saking heboh dan maraknya yang melakukan kasus
tersebut sampai-sampai siaran TV apapun itu penuh dengan kasus korupsi salah
satunya KPK. Kasus korupsi dimunculkan tidak hanya di TV saja, di media masapun
sangat banyak tertera. Selama bertahun-tahun selalu saja begitu dan parahnya
lagi tersangka korupsi atau koruptor setiap tahunnya semakin meningkat dan
merajalela. Parahnya koruptor yang muncul di TV mereka hanya tersenyum
seolah-olah tidak merasa bersalah kepada jutaan jiwa. Nilai kemanusiaan yang
melekat padanya sudah dilahap oleh tindakannya yang bejat. Pendidikan yang ada
di Indonesia saja bisa dikalahkan dengan kasus korupsi. Kasus korupsi dikatakan
terbesar khususnya di Indonesia dengan salah satu alasan keimanan dan kejujuran
yang dimiliki oleh koruptor sangat rendah. Begitu hebat korupsi. Sampai-sampai
bisa membalikkan manusia ke jalan yang sesat sekaligus merugikan jutaan jiwa.
Koruptor hanya mementingkan ego kesenangan sesaatnya tidak memikirkan dampak ke
depannya.
Memang
sungguh aneh. Korupsi yang kita kenal wujudnya tidak nyata hanya bisa dirasakan langsung tetapi banyak
merugikan jutaan jiwa. Seperti makhluk gaib saja wujudnya angin atau tak
terlihat dan membahayakan manusia. Korupsi
juga menjadi penyakit bertahun-tahun menggerami Indonesia. Kasihan sekali Ibu
pertiwi ini, raganya luka akibat korupsi dan batinnya tersiksa akibat para
koruptor. Sering terdengar berantas korupsi sedini mungkin dan dimulai dari
diri sendiri tetapi hasilnya di luar dugaan alias tidak terlaksana. Hanya
tulisan dan kata-kata yang kosong saja selalu terucap namun tanpa bukti. Manusia
mana yang tidak tergiur melihat uang jutaan, miliyaran, bahkan triliyunan menumpuk
di depan mata memiliki daya tarik yang luar biasa. Di dalam dunia politik, korupsi mempersulit demokrasi dan tata
pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara menghancurkan
proses formal. Korupsi juga
mempersulit pembangunan ekonomi dan mengurangi kualitas pelayanan pemerintahan.
Strategi
membasmi korupsi harus sesuai kebutuhan, target, dan berkesinambungan. Dengan
penetapan target, maka strategi pemberantasan atau pembasmian korupsi akan
lebih terarah, dan dapat dijaga kesinambungannya. Selain itu, strategi membasmi
korupsi haruslah berdasarkan sumber daya dan kapasitas. Dengan mengabaikan
sumber daya dan kapasitas yang tersedia, maka strategi ini akan sulit untuk
diimplementasikan karena daya dukung yang tidak seimbang. Dalam hal ini
kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) dan kapasitasnya harus dapat ditingkatkan,
terutama di bidang penegakan hukum dalam hal penanganan korupsi. Peningkatan
kapasitas ini juga dilakukan melalui jalan membuka kerjasama internasional.
Penyesalan memang kehadirannya
selalu di akhir. Coba saja datangnya di awal pasti tidak akan ada penyesalan. Sudah
saatnya kita semua memerangi korupsi tanpa pandang bulu siapan itu. Tak ada
yang perlu ditakutkan karena kita sama-sama makhluk ciptaan Tuhan mengkonsumsi
nasi. Pemerintah harus tegas menangani para pemimpin daerah, kota-kota besar
dimanapun itu yang menelan “uang haram” milik bersama. Kasus korupsi harus dibasmi
tuntas, hingga ke akar-akarnya. Tanpa sikap yang tegas, fenomena korupsi yang
terus-menerus menggerogoti bangsa ini tidak akan bisa berakhir. Jika Indonesia tanpa
korupsi, maka sudah barang tentu kehidupan rakyat akan menjadi sejahtera dan
semakin maju.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar