Selasa, 10 Juni 2014

Mari Basmi Korupsi Demi Ibu Pertiwi



Korupsi bukan wujud manusia ataupun benda. Korupsi bagaikan magnet yang memiliki daya tarik persuasif setiap manuisa. Manusia yang melakukan korupsi disebut koruptor. Kelakuannya cocok diberi gelar “tikus got” yang wujudnya hitam dan menjijikkan. Korupsi bisa menutup mata setiap manusia yang melihat sekaligus merasakannya. Korupsi bisa membalikkan mata manusia sehingga iman yang dimiliki bisa lenyap dalam seketika. Begitu hebatnya korupsi sampai manusia lupa akan dirinya. Di Indonesia ada pihak yang diuntungkan dan dirugikan dalam kasus korupsi. Pertama, pihak yang melakukan korupsi merasakan keuntungan yang luar biasa karena kehadiran korupsi bisa melipatgandakan uang dalam sekejap untuk kita miliki padahal uang itu bukan milik kita. Kedua, dengan kehadiran korupsi hutang Negara khususnya di Indonesia semakin menggunung. Saya tidak setuju dengan kehadiran korupsi. Bagi yang melakukan korupsi rumah mewah di mana-mana, mobil keluaran terbaru selalu ada, bagi kaum laki-laki bisa mengoleksi cewek artis semaunya, dan tabungan selalu bertambah setiap harinya. Itu salah satu ciri yang dimiliki atau dilakukan oleh orang yang melakukan korupsi. Tikus got yang hitam dan menjijikkan apakah dibiarkan hidup berkeliaran di Indonesia selama bertahun-tahun? Tentu tidak. Satu-satunya cara adalah membasmi korupsi demi Ibu pertiwi.   
Siapa yang bisa membasmi korupsi? Sudah pasti jalan satu-satunya yang bisa melawan korupsi adalah kesadaran diri kita sendiri. Korupsi seperti artis saja  saking heboh dan maraknya yang melakukan kasus tersebut sampai-sampai siaran TV apapun itu penuh dengan kasus korupsi salah satunya KPK. Kasus korupsi dimunculkan tidak hanya di TV saja, di media masapun sangat banyak tertera. Selama bertahun-tahun selalu saja begitu dan parahnya lagi tersangka korupsi atau koruptor setiap tahunnya semakin meningkat dan merajalela. Parahnya koruptor yang muncul di TV mereka hanya tersenyum seolah-olah tidak merasa bersalah kepada jutaan jiwa. Nilai kemanusiaan yang melekat padanya sudah dilahap oleh tindakannya yang bejat. Pendidikan yang ada di Indonesia saja bisa dikalahkan dengan kasus korupsi. Kasus korupsi dikatakan terbesar khususnya di Indonesia dengan salah satu alasan keimanan dan kejujuran yang dimiliki oleh koruptor sangat rendah. Begitu hebat korupsi. Sampai-sampai bisa membalikkan manusia ke jalan yang sesat sekaligus merugikan jutaan jiwa. Koruptor hanya mementingkan ego kesenangan sesaatnya tidak memikirkan dampak ke depannya.  
Memang sungguh aneh. Korupsi yang kita kenal wujudnya tidak nyata  hanya bisa dirasakan langsung tetapi banyak merugikan jutaan jiwa. Seperti makhluk gaib saja wujudnya angin atau tak terlihat dan membahayakan manusia.   Korupsi juga menjadi penyakit bertahun-tahun menggerami Indonesia. Kasihan sekali Ibu pertiwi ini, raganya luka akibat korupsi dan batinnya tersiksa akibat para koruptor. Sering terdengar berantas korupsi sedini mungkin dan dimulai dari diri sendiri tetapi hasilnya di luar dugaan alias tidak terlaksana. Hanya tulisan dan kata-kata yang kosong saja selalu terucap namun tanpa bukti. Manusia mana yang tidak tergiur melihat uang jutaan, miliyaran, bahkan triliyunan menumpuk di depan mata memiliki daya tarik yang luar biasa. Di dalam dunia politik, korupsi mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara menghancurkan proses formal. Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dan mengurangi kualitas pelayanan pemerintahan.
Strategi membasmi korupsi harus sesuai kebutuhan, target, dan berkesinambungan. Dengan penetapan target, maka strategi pemberantasan atau pembasmian korupsi akan lebih terarah, dan dapat dijaga kesinambungannya. Selain itu, strategi membasmi korupsi haruslah berdasarkan sumber daya dan kapasitas. Dengan mengabaikan sumber daya dan kapasitas yang tersedia, maka strategi ini akan sulit untuk diimplementasikan karena daya dukung yang tidak seimbang. Dalam hal ini kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) dan kapasitasnya harus dapat ditingkatkan, terutama di bidang penegakan hukum dalam hal penanganan korupsi. Peningkatan kapasitas ini juga dilakukan melalui jalan membuka kerjasama internasional.
Penyesalan memang kehadirannya selalu di akhir. Coba saja datangnya di awal pasti tidak akan ada penyesalan. Sudah saatnya kita semua memerangi korupsi tanpa pandang bulu siapan itu. Tak ada yang perlu ditakutkan karena kita sama-sama makhluk ciptaan Tuhan mengkonsumsi nasi. Pemerintah harus tegas menangani para pemimpin daerah, kota-kota besar dimanapun itu yang menelan “uang haram” milik bersama. Kasus korupsi harus dibasmi tuntas, hingga ke akar-akarnya. Tanpa sikap yang tegas, fenomena korupsi yang terus-menerus menggerogoti bangsa ini tidak akan bisa berakhir. Jika Indonesia tanpa korupsi, maka sudah barang tentu kehidupan rakyat akan menjadi sejahtera dan semakin maju.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar