Selasa, 10 Juni 2014

Mencari ‘Danyuh’ untuk Sesuap Nasi


Melewati tebing yang tajam demi mencari penghasilan, Desa Pangkungwani, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana.     
Jalan setapak itu mendaki tampa ampun, tak berkesudahan. Napas terengah-engah, tenaga terkuras habis. Pantas saja orang-orang malas melewati jalan tebing tersebut.

Berbaju warna coklat pudar, bersandal jepit, Hapsah (68) berjalan mendaki tebing yang tajam tanpa jeda. Satu ikat daun kelapa kering (danyuh) beratnya 1 1/2 kilogram yang dia junjung seolah-olah tak pernah membebani kehidupannya. Sosok perempuan yang berasal dari Desa Pangkungwani, Kecamatan mendoyo, Kabupaten Jembrana, itu muncul melewati saya yang terengah di tebing yang tajam menuju ke daerah pemandian (pangkung).
Biasanya Arif (2) cucu dari perempuan tua itu sering mengikuti kemana neneknya melangkah. Perempuan tua ini menggerakan kakinya sangat lincah seperti hentakan kuda jantan. Begitu cepat dan tanpa jeda dalam bertindak.
Perempuan tua ini bergegas untuk sampai di rumahnya karena merasa sangat lelah, haus, dan lapar. Sambil menghela napas panjang, saya sempat menyempitkan pertanyaan apa menu nenek siang ini. “Dadong singelah daranasi  apo, nasi putih gen ado di mejo, (Nenek tidak mempunyai menu apa-apa, hanya sepiring nasi putih yang tersedia di atas meja),” seru Hapsah nenek yang tidak berdaya itu. Kebiasaan perempuan tua ini dalam kesehariannya yakni mendaki tebing mencari daun kelapa kering (danyuh) untuk menghidupi keluarganya.
Kebetulan suaminya tidak bisa menafkahi karena dia mengalami diabetes kurang lebih 15 tahun. Dokter menyarankan agar suaminya beristirahat penuh di rumah. Sungguh malang nasib perempuan tua itu, terkadang dia menangis merenungi garis kehidupannya. Penyesalan yang luar biasa setiap hari terpendam dalam hatinya, seakan-akan hatinya tertusuk oleh jarum yang ingin merebut nyawanya. Kepedihan yang dia rasakan setiap menit, bahkan detik pun ingin rasanya dia melepas beban yang ia pikul selama belasan tahun ini. Namun apa daya, penat yang tertanam dilubuk hatinya tidak bisa dirangkai dalam sebuah kata yang harus diucapkan. Hanya saja menjadi penyakit dalam yang tak tehingga yang dia rasakan saat ini.
Panas, hujan, gelap, dan terang sudah biasa dia lalui. Bahkan cacian, berita tidak sedap yang menyangkut keluarganya pun setiap hari dia tampung. Air mata yang dia turunkan sudah menjadi kewajiban dalam kesehariannya.
26 Mei 2012 tepat pada Sabtu sore, Hapsah berpamitan sambil memeluk suaminya dengan tangisan yang histeris. “Bapak, Sah budin mejalan ke pangkung ngalih dayuh, Sah ngidih Do’a pang liu maan danyuh anggon adep, bapak bagusan nyago ibo. “(Bapak, Sah mau berangkat ke pangkung mencari daun kelapa kering, Sah minta Do’anya agar Sah banyak mendapatkan danyuh untuk dijual, bapak jaga kondisi baik-baik),” seru Hapsah sambil meneteskan air mata.  
Perempuan tua itu mulai melangkahkan kakinya untuk mencari daun kelapa kering (danyuh). Alat yang biasa dibawa untuk mencari daun kelapa kering (danyuh) yakni sabit, galah atau bambu panjang, dan tali yang terbuat dari tangkai pohon kelapa yang masih muda. Semut merah dan alat tersebut selalu menjadi sahabat perempuan tua itu dalam mencari daun kelapa kering. Dia tidak pernah mengeluh kesah dalam menjalani pekerjaan yang kurang layak ia tekuni meskipun daun kelapa kering (danyuh) seharga Rp 1.500 per ikatnya. Perempuan tua ini bangga menjalani pekerjaan berat seperti ini, asalkan pekerjaan yang dia jalani halal untuk di makan. Pekerjaan ini sudah 6 tahun dia tekuni.
Siang berganti malam. Sampai di pekarangan rumah, Hapsah mengumpulkan daun kelapa kering (danyuh) disebelah rumahnya. Langkah selanjutnya yang dia tempuh meminta air PAM tetangga untuk membuatkan suaminya air hangat. Terkadang telinga Hapsah mendengar bisikan kata-kata yang merobek hatinya. “Setiap hari meminta air, coba sekali saja kalau menginjakkan kakimu ke rumahku bawa serpihan uang untuk membayar, ”kata Idah (35) salah satu tetangganya.
Air mata mulai menetes membasahi wajah perempuan tua yang lemah itu. Kakinya gemetar saat mendengar kata yang diucapkan dari bibir sosok perempuan yang bernama Idah. Air PAM yang dipintanya langsung dituang begitu saja. Kini dia kembali ke rumahnya dengan membawa tangan kosong ditemani tangisan yang menyesakkan dada.  
Beginilah nasib keluarga Hapsah, setiap hari selalu mendapatkan kata-kata pedas yang menggores hatinya. Air mata setiap detik mengalir di wajahnya. Dia setiap hari merenungi nasib jalan kehidupannya, harus menggantikan kedudukan suaminya sebagai kepala keluarga. Beribukali dia ingin mengganti profesinya, tetapi keadaan yang menghapus semua harapan indah yang dia punya. Perempuan ini hanya bisa menjalani keadaan yang dia terima dari Yang Maha Kuasa. Suatu saat pasti Tuhan akan memberikan jalan terbaik untuk hamba-Nya yang kesulitan.
Perempuan tua ini mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan sedikitpun dari tangan pemerintah. Dia merasa keluarganya dianggap sampah masyarakat yang setiap hari menjadi parasit di Desa ini. Jangankan sembako yang berupa beras, air bersih sebagian besar diterima warga Desa Yehsumbul selalu mengalir, kecuali keluarga Hapsah setetespun tidak mendapatkan air yang mengalir. Dalam hatinya berbisik, “icang mekito gati ngusulin ajak pemerintah pang maan yeh bersih caro banjaran lenan, tapi hatin cang ngorahan sing mungkin asane pemerintah nyak nolongin keluarga singelah caro icang. “(ingin rasanya saya mengusulkan kepada pemerintah agar mendapatkan air bersih seperti warga yang lain, tetapi hati saya berkata tidak mungkin rasanya pemerintah mau menyalurkan tangannya membantu keluarga miskin seperti saya),”renungan Hapsah yang paling dalam.
Sebaiknya, sosok perempuan yang sudah tua seperti Hapsah harus  beristirahat banyak tidak boleh melakukan aktivitas seberat yang dia alami sekarang. Pihak dari pemerintah seharusnya mempunyai kewajiban untuk menyalurkan bantuan berupa sembako dan menyalurkan air bersih untuk keluarga Hapsah. Apalagi suaminya tidak bisa menafkahi secara lahiriah kepada istrinya karena mengalami diabetes kurang lebih 15 tahun. Marilah! julurkan tangan kita untuk memberikan bantuan kepada keluarga Hapsah yang kurang mampu.      

                                                                                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar