Selasa, 10 Juni 2014

Menulis Tak Pernah Jemu, ‘Rupiah’ Datang Tak Kenal Waktu



Usia renta tak kenal lelah. Berkarya dan terus berkarya itulah yang ditekuni Ngurah Parsua memenuhi kesehariannya. Beliau selalu berkecimpung di dunia sastra khususnya puisi dan cerpen. Hasil karyanya patut diacungkan jempol karena mengandung nilai religius yang bermakna. Hasil karyanya juga sudah banyak bahkan bisa dikatakan melampaui batas karena terlalu sering dimuat di media masa. Dengan alasan sudah terbukti karya yang dibuat olehnya memiliki nilai yang tinggi dan berkualitas di mata masyarakat. Senang sekali jika menjadi beliau, rupiah selalu datang tanpa kenal waktu. Sebanding dengan hasil giatnya yang tak kenal lelah dengan rupiah yang tak pernah berhenti mendatanginya. Ingin rasanya saya memposisikan diri seperti beliau, selalu bergaul dengan karya sastra dalam bentuk tulisan seperti cerpen dan puisi. Ada dua persepsi yang menyetujui bahkan manolak karya beliau. Di satu pihak ada saja yang tidak menyukai karya beliau dengan alasan sulit dimengerti kata-kata yang ditungkan dalam karyanya. Dipihak lain beranggapan tanpa membaca karya beliau rasa hidup ini akan hambar, ibarat sayur tanpa dibubuhi garam. Ngurah Parsua salah satu sosok pembangkit semangat demi tercapainya sebuah karya sastra yang bermutu.
Ngurah Persua saat Seminar sempat memetik beberapa penggalan kalimat yang berisikan “jabatan tidak menjadi penghalang untuk berkarya”. Saya sangat satuju dan mendukung ungkapan beliau karena mengandung nilai positif. Dulunya beliau dalam menekuni bidang menulisnya sambil menggarap sapi yang lumayan banyak. Namun sekarang karena usia yang semakin renta beliau berfokus dalam menulis saja dan hewan garapannya diberikan ke orang lain untuk digarap atau dipelihara. Sungguh sulit memang menemukan sosok seperti Ngurah Parsua, setengah hari bekerja atau menggarap sapi dan sisanya lagi menggauli karya sastra. Rutinitasnya memang langka, jarang sekali ada ahli sastrawan yang sudah terkenal di media masa sampil menggarap sapi. Gengsi jauh dikesampingkan oleh beliau karena gengsi merupakan penghambat terbesar sekaligus terutama tercapainya kegagalan.    
Tulisannya selalu saja mengikuti ke manapun beliau beranjak. Pepatah mengatakan “ di mana ada api, di situ ada asap”. Kedekatan beliau dengan tulisannya memang sudah sangat lama bakhan tulisan dijadikan sahabat untuk menuangkan semua isi hati beliau apapun bentuknya. Ungkapan perasaan cinta, benci, sedih, marah, senang, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan banyak jenis ungkapan lainnya dituliskan dalam bentuk cerpen ataupun puisi. Beliau menuliskan karyanya melihat dari alam sekitar dan sekelilingnya apapun itu. Tidak semua orang bisa seperti Ngurah Parsua, namanya banyak tercantum di media masa karena karyanya banyak dimuat seperti Bali Post, Karya Bakthi, Nusa Tenggara, Bali Cuier, Merdeka, Berita Buana, Berita Yudha, Suara Karya, Sinar Harapan, Simponi, Swadesi, Eksperimen, Srikandi, Suara Pembangunan, Mutu, Arena, Bukit Barisan Minggu Pagi, Prioritas, Suara Pembaharuan, dan El Holas. Tidak heran hampir semua media masa yang ada di Bali karyanya pernah dimuat.
Benar-benar manusia langka. Saya ambil salah satu contoh puisi beliau yang berjudul “Tuhan”. Pak Ngurah Parsua sangat cerdik dalam memilah dan memilah kata dalam puisinya. Setiap baris yang dituangkan dalam bentuk puisi tersebut memang sulit dipahami. Namun, saat proses membaca sekaligus memaknainya hati ini terasa ada getaran yang cukup hebat dan bulu kudukku merinding secara tiba-tiba. Bukan getaran akibat keindahan dalam setiap diksi atau pilihan katanya, tetapi keindahan akan imajinasi yang menumbuhkan kerinduan Tuhan dalam diri kita. Itu bertanda puisi yang kita baca memiliki daya persuasip yang tinggi bagi setiap pembaca. Sentuhan imajinasi yang terdapat dalam setiap bait puisinya dipadukan dengan keyakinan kita akan adanya Tuhan. Ngurah Parsua menuangkan rasa cinta kasihnya dalam bentuk kata-kata yang memiliki arti renungan bagi setiap kaum yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan.
Menulis puisi terkadang mengalami kesulitan dan ada juga mudahnya. Kita bebas berimajinasi lewat tulisan sesuai dengan kenyataan yang pernah kita  hadapi. Menulis puisi tidak selalu berpatokan dengan Tata Penulisan Kaidah Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar, namun bahasanya ini lebih bersifat santai dan mengena di hati pembaca. Tidak heran puisi banyak diminati bagi setiap pembaca khususnya para penikmat sastra karena setiap bait yang dituangkan mengandung makna tersirat sesuai dengan kepribadian kita. Obat dari menghilangkan stres salah satunya membaca puisi. Pembacaan puisi yang tepat saat keadaan/situasi kita tenang atau bersantai agar memaknai setiap bait terdapat dalam puisi tersebut menyentuh hati kita. Justru sebaliknya, keadaan kita saat membaca puisi fikiran lagi kacau sudah barang tentu cara memaknai puisi tersebut artinya kacau juga. Keadaan atau situasi sangat mendukung dalam menikmati sebuah puisi agar puisi mengena di hati setiap pembaca.
Ngurah Parsua manusia langka sekaligus bapak sastra yang patut diacunkgan jempol. Bagi siapa saja yang memiliki cita-cita dalam bidang menulis, ikutilah jejak Ngurah Parsua dan renungkanlah mulai sekarang. Gengsi jangan terlalu diutamakan jika kesuksesan ingin cepat diraih. Jangan memendam keinginan dan bakat yang dimiliki, tuangkanlah bakat kalian dalam bentuk apa saja tidak selalu berpatokan dalam bidang menulis saja. Kita sebagai calon guru Bahasa dan Sastra Indonesia harus mengambil contoh dari sosok Ngurah Parsua untuk dijadikan pedoman atau patokan agar menjadi guru yang berkualitas dan profesional dalam bidang sastra khususnya menulis.      

Kawan….                                                                         

Janganlah memandang orang dari sisi fisiknya.
 Cobalah kalian renungkan mulai sekarang dan bangkitkan minat dan bakat kalian jika masih ada yang terpendam….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar