Usia renta tak
kenal lelah. Berkarya dan terus berkarya itulah yang ditekuni Ngurah Parsua
memenuhi kesehariannya. Beliau selalu berkecimpung di dunia sastra khususnya
puisi dan cerpen. Hasil karyanya patut diacungkan jempol karena mengandung
nilai religius yang bermakna. Hasil karyanya juga sudah banyak bahkan bisa
dikatakan melampaui batas karena terlalu sering dimuat di media masa. Dengan
alasan sudah terbukti karya yang dibuat olehnya memiliki nilai yang tinggi dan
berkualitas di mata masyarakat. Senang sekali jika menjadi beliau, rupiah
selalu datang tanpa kenal waktu. Sebanding dengan hasil giatnya yang tak kenal lelah
dengan rupiah yang tak pernah berhenti mendatanginya. Ingin rasanya saya
memposisikan diri seperti beliau, selalu bergaul dengan karya sastra dalam
bentuk tulisan seperti cerpen dan puisi. Ada dua persepsi yang menyetujui
bahkan manolak karya beliau. Di satu pihak ada saja yang tidak menyukai karya
beliau dengan alasan sulit dimengerti kata-kata yang ditungkan dalam karyanya.
Dipihak lain beranggapan tanpa membaca karya beliau rasa hidup ini akan hambar,
ibarat sayur tanpa dibubuhi garam. Ngurah Parsua salah satu sosok pembangkit
semangat demi tercapainya sebuah karya sastra yang bermutu.
Ngurah Persua
saat Seminar sempat memetik beberapa penggalan kalimat yang berisikan “jabatan
tidak menjadi penghalang untuk berkarya”. Saya sangat satuju dan mendukung
ungkapan beliau karena mengandung nilai positif. Dulunya beliau dalam menekuni
bidang menulisnya sambil menggarap sapi yang lumayan banyak. Namun sekarang karena
usia yang semakin renta beliau berfokus dalam menulis saja dan hewan garapannya
diberikan ke orang lain untuk digarap atau dipelihara. Sungguh sulit memang
menemukan sosok seperti Ngurah Parsua, setengah hari bekerja atau menggarap
sapi dan sisanya lagi menggauli karya sastra. Rutinitasnya memang langka,
jarang sekali ada ahli sastrawan yang sudah terkenal di media masa sampil
menggarap sapi. Gengsi jauh dikesampingkan oleh beliau karena gengsi merupakan
penghambat terbesar sekaligus terutama tercapainya kegagalan.
Tulisannya
selalu saja mengikuti ke manapun beliau beranjak. Pepatah mengatakan “ di mana
ada api, di situ ada asap”. Kedekatan beliau dengan tulisannya memang sudah
sangat lama bakhan tulisan dijadikan sahabat untuk menuangkan semua isi hati
beliau apapun bentuknya. Ungkapan perasaan cinta, benci, sedih, marah, senang,
mendekatkan diri kepada Tuhan, dan banyak jenis ungkapan lainnya dituliskan
dalam bentuk cerpen ataupun puisi. Beliau menuliskan karyanya melihat dari alam
sekitar dan sekelilingnya apapun itu. Tidak semua orang bisa seperti Ngurah
Parsua, namanya banyak tercantum di media masa karena karyanya banyak dimuat
seperti Bali Post, Karya Bakthi, Nusa Tenggara, Bali Cuier, Merdeka, Berita
Buana, Berita Yudha, Suara Karya, Sinar Harapan, Simponi, Swadesi, Eksperimen,
Srikandi, Suara Pembangunan, Mutu, Arena, Bukit Barisan Minggu Pagi, Prioritas,
Suara Pembaharuan, dan El Holas. Tidak heran hampir semua media masa yang ada
di Bali karyanya pernah dimuat.
Benar-benar
manusia langka. Saya ambil salah satu contoh puisi beliau yang berjudul
“Tuhan”. Pak Ngurah Parsua sangat cerdik dalam memilah dan memilah kata dalam
puisinya. Setiap baris yang dituangkan dalam bentuk puisi tersebut memang sulit
dipahami. Namun, saat proses membaca sekaligus memaknainya hati ini terasa ada
getaran yang cukup hebat dan bulu kudukku merinding secara tiba-tiba. Bukan
getaran akibat keindahan dalam setiap diksi atau pilihan katanya, tetapi
keindahan akan imajinasi yang menumbuhkan kerinduan Tuhan dalam diri kita. Itu
bertanda puisi yang kita baca memiliki daya persuasip yang tinggi bagi setiap
pembaca. Sentuhan imajinasi yang terdapat dalam setiap bait puisinya dipadukan
dengan keyakinan kita akan adanya Tuhan. Ngurah Parsua menuangkan rasa cinta
kasihnya dalam bentuk kata-kata yang memiliki arti renungan bagi setiap kaum yang
ingin mendekatkan diri kepada Tuhan.
Menulis puisi
terkadang mengalami kesulitan dan ada juga mudahnya. Kita bebas berimajinasi
lewat tulisan sesuai dengan kenyataan yang pernah kita hadapi. Menulis puisi tidak selalu berpatokan
dengan Tata Penulisan Kaidah Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar, namun
bahasanya ini lebih bersifat santai dan mengena di hati pembaca. Tidak heran
puisi banyak diminati bagi setiap pembaca khususnya para penikmat sastra karena
setiap bait yang dituangkan mengandung makna tersirat sesuai dengan kepribadian
kita. Obat dari menghilangkan stres salah satunya membaca puisi. Pembacaan
puisi yang tepat saat keadaan/situasi kita tenang atau bersantai agar memaknai
setiap bait terdapat dalam puisi tersebut menyentuh hati kita. Justru
sebaliknya, keadaan kita saat membaca puisi fikiran lagi kacau sudah barang
tentu cara memaknai puisi tersebut artinya kacau juga. Keadaan atau situasi
sangat mendukung dalam menikmati sebuah puisi agar puisi mengena di hati setiap
pembaca.
Ngurah Parsua
manusia langka sekaligus bapak sastra yang patut diacunkgan jempol. Bagi siapa
saja yang memiliki cita-cita dalam bidang menulis, ikutilah jejak Ngurah Parsua
dan renungkanlah mulai sekarang. Gengsi jangan terlalu diutamakan jika
kesuksesan ingin cepat diraih. Jangan memendam keinginan dan bakat yang
dimiliki, tuangkanlah bakat kalian dalam bentuk apa saja tidak selalu
berpatokan dalam bidang menulis saja. Kita sebagai calon guru Bahasa dan Sastra
Indonesia harus mengambil contoh dari sosok Ngurah Parsua untuk dijadikan
pedoman atau patokan agar menjadi guru yang berkualitas dan profesional dalam
bidang sastra khususnya menulis.
Kawan….
Janganlah memandang orang dari
sisi fisiknya.
Cobalah kalian renungkan mulai sekarang dan bangkitkan minat dan
bakat kalian jika masih ada yang terpendam….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar